Total Tayangan Laman

Minggu, 20 Mei 2012

ILMU SASTRA



A.    Bidang Ilmu Sastra

Ilmu sastra mencakup tiga bidang, yaitu teori sastra, sejarah sastra, dan kritik sastra.
1.      Teori sastra adalah cabang ilmu sastra yang mempelajari teori kesusastraan, meliputi latar belakang sastra, istilah-istilah sastra, konsep sastra, prinsip-prinsip umum sastra, komposisi, genre, pendekatan, dan sebagainya.
2.      Sejarah sastra adalah cabang ilmu sastra yang mempelajari atau menyusun perkembangan sastra dari awal hingga yang terakhir, mencakup sejarah lahirnya karya sastra, jenis-jenis sastra, perkembangan gaya, masalah periodisasi sastra, kronologi, perkembangan aliran0aliran sastra, dan sebagainya.
3.       Kritik sastra adalah cabang ilmu sastra yang mempelajari karya sastra dengan langsung memberikan pertimbangan baik buruk, kekurangan kelebihan, atau bernilai tidaknya sebuah karya sastra.
Tiga bidang ilmu sastra tersebut dalam penerapannya saling berkaitan, saling mengisi, dan melengkapi. Artinya, implementasi kritik sastra membutuhkan teori dan sejarah sastra, sejarah sastra membutuhkan teori dan kritik sastra, begitu pula teori sastra membutuhkan sejarah kritik sastra. Hal itu dapat dijelaskan sebagaimana uraina berikut.
1.      Bidang Kritik Sastra
Kritik sastra membutuhkan teori sastra. Untuk dapat memberikan kritik terhadap suatu karya sastra dengan tepat dan objektif antara lain dibutuhkan teori khas sastra, teori penilaian, teori pendekatan, teori jenis sastra, gaya, komposisi, struktur karya sastra, dan sebagainya. Misalnya, untuk memberikan kritik terhadap sebuah novel sekurang-kurangnya dibutuhkan teori cerita rekaan, baik teori struktur creita rekaan maupun aspek social cerita rekaan. Demikian juga kritik sastra membutuhkan sejarah sastra, misalnya untuk mengetahui orosinalitas sebuah karya sastra, pertalian, hubungan, atau perbandingannya dengan karya sastra lain.
2.      Bidang Sejarah Sastra
Sejarah sastra membutuhkan teori sastra. Untuk dapat menyusun sejarah kelahiran, pertumbuhan , dan perkembangan karya sastra yang akurat dan objektif dibutuhkan teori penggolongan karya sastra, perbedaan teori-teori sastra yang muncul dari waktu ke waktu. Sejarah sastra juga membutuhkan kritik sastra, sekurang-kurangnya membutuhkan hasil-hasil kritik sastra. Misalnya, suatu karya sasttra, sebuah peristiwa sastra atau seorang sastrawan tidak mungkin dicantumkan dalam rangkaian sejarah sastra jika tidak dinilai penting dan berdampak besar bagi kehidupan sastra secara keseluruhan atau apabila karya sastra itu tidak penting. Padahal untuk menentukan penting tidaknya atau bernilai tidaknya sebuah karya sastra dibutuhkan kritik sastra.
3.      Bidang Teori Sastra
Teori sastra jelas membutuhkan kritik sastra, misalnya untuk menyusun teori tentang gaya, teknik bercerita, dan misalnya untuk menyusun teori tentang angkatan, aliran, dan sebagainya perlu melihat perkembangan sastra secara keseluruhan.

B.     Genre Sastra
Ahli piker yang pertama meletakkan dasar teori genre adalah Aristoteles dalam tulisannya yang terkenal Poetica. Teori Aristoteles tentang jenis karya sastra didasarkan pada karya sastra Yunani klasik, tetapi menarik dari teori Aristoteles ini adalah bahwa ia cocok terapkan pada karya sastra lain di seluruh dunia.
Menurut Aristoteles, karya sastra berdasarkan rragam perwujudannya terdiri atas tiga macam, yaitu epik, lirik, dan drama. Epik adalah teks yang sebagian berisi deskripsi, dan sebagain lainnya berisi ujaran tokoh (cakapan). Epik ini biasanya disebut dengan prosa. Lirik adalah ungkapan ide atau perasaan pengarang. Dalam hal ini yang berbicara adalah “aku” lirik, biasa yang biasa diebut penyair. Lirik inilah yang sekarang dikenal sebagai puisi atau sajak, yakni karya sastra yang berisi ekspresi perasaan pribadi yang lebih mengutamakan cara mengekspresikannya. Drama adalah karya sastra yang didominasi oleh cakapan para tokoh. Kriteria drama yang membedakan dengan dua jenis karya sastra lainnya adalah hubungan manusia dunia ruang dan waktu.
Penelitian tentang genre sastra terus berkembang dari waktu ke waktu, dan seringkali tidak memuaskan karena pengertian-pengertian yang dirumuskan selalu saja bergeser dan mengalami perubahan. Hal itu disebabkan oleh selalu adanya perubahan-perubahan konsep tentang karya sastra. Namun demikian, meskipun konsep-konsep tentang karya sastra selalu berubah, tetapi objek studi sastra dapat dikatakan tetap sama, yaitu, prosa, puisi, dan drama. Perlu diketahui bahea seorang pengarang sastra, baik pengarang prosa, puisi maupun drama, selalu berusaha mengemukakan pembaruan-pembaruan dalam karyanya. Kadang-kadang mereka ingin menyimpang dari konvensi yang telah ada, karena memamng begitulah cirri karya sastra, yaitu selalu berada dalam ketegangan antara konvensi dan inovasi.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar